Di era Society 5.0, teknologi berkembang pesat, namun karakter, moral, dan keteladanan tetap menjadi hal utama. Materi ini menekankan bahwa ilmu bisa digantikan teknologi, tetapi soft skill dan hard skill tidak. Narasumber juga menyoroti tantangan besar bagi Indonesia Emas, yaitu kesenjangan ekonomi dan pendidikan, serta meningkatnya intoleransi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, kita harus memiliki mental yang kuat dengan mematrikan prinsip AGHTK (Ancaman, Gangguan, Halangan, Tantangan, Rintangan) dalam diri.
Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa diharapkan mampu:
Berkontribusi bagi masyarakat.
Disiplin, bertanggung jawab, dan taat hukum.
Menghormati hak orang lain.
Bekerja keras dan tepat waktu.
Intinya, mahasiswa harus memiliki kepribadian baik dan berakhlak mulia. Dengan kemampuan intelektual dan karakter yang kuat, mahasiswa diharapkan bisa membawa perubahan positif dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan di masyarakat.
Narasumber : Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si.,MT
Dalam materi ini menjelaskan perjalanan waktu universitas lampung dari mulai berdiri sampai berkembang pesat seperti sekarang (Transformasi Universitas lampung), menjelaskan bagaimana Akreditasi Universitas Lampung, upaya transformasi Universitas Lampung sampai tahun 2045, menjelaskan International Accreditation for study programmer at Unila. Selain itu, memaparkan tagline Universitas Lampung yaitu Be Strong :
● E : Empowerment Of Human Resource
● S : Services for Community
● T : Teaching
● R : Research
● O : Organization Allah Partnerships
● N : Network Infrastructure
● G : Good University Govermance
Wawasan kebangsaan adalah suatu kesamaan cara pandang ke dalam dan keluar dari suatu bangsa mengenai berbagai permasalahan dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan militer pertahanan. Pandangan proaktif untuk membangun bangsa, menciptakan keunggulan yang tangguh dalam percaturan global.
Ada 3 unsur wawasan kebangsaan :
1. Rasa kebangsaan (perasaan cinta, bangga, dan memiliki terhadap bangsa dan negara)
2. Paham kebangsaan (pemahaman terhadap konsep kebangsaan, termasuk sejarah, nilai-nilai dan tujuan nasional)
3. Semangat kebangsaan (Dorongan/motivasi untuk berbuat sesuatu demi kepentingan bangsa dan negara)
Kehilangan Jati diri ditandai dengan menurunnya rasa cinta tanah air, menurunnya rasa rela berkorban, menurunnya rasa tidak mengenal menyerah, menurunnya pemahaman terhadap pancasila, serta hilangnya kemampuan Bela negara. Jika sudah kehilangan jati diri, dipastikan jiwa nasionalis sudah terkikis. Yang harus dilakukan agar tidak kehilangan jati diri adalah harus punya karakter dan tujuan hidup, kerja keras dan mau bekerja sama, taat aturan, gali potensi diri, mampu melihat perspektif orang lain serta mencintai bangsa dan memiliki rasa empati.
Materi 5 : Peran Mahasiswa di Era Digital (Sistem pendidikan tinggi di Indonesia)
Narasumber : Prof. Dr Sunyono, M. Si. ,
Prof. Dr. Sunyono, M.Si., dalam materi tentang Peran Mahasiswa di Era Digital, mengemukakan bahwa adaptasi adalah kunci utama bagi mahasiswa. Adaptasi ini mencakup pemahaman teknologi, pengembangan keterampilan digital seperti pengkodean dan pengelolaan data, serta kemampuan kolaborasi daring menggunakan platform virtual seperti Zoom atau Google Meet. Selain itu, mahasiswa wajib memiliki literasi digital yang kuat. Hal ini melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara kritis, memahami etika digital termasuk privasi dan menghindari plagiarisme, serta menguasai komunikasi efektif melalui media digital. Mahasiswa juga diharapkan dapat berkontribusi pada inovasi dengan menciptakan solusi kreatif seperti aplikasi pemecah masalah, partisipasi aktif dalam startup atau penelitian, dan pemanfaatan big data untuk proyek-proyek berdampak signifikan. Pergeseran metode pengajaran juga menjadi fokus, dengan adanya pembelajaran daring dan metode campuran (blended learning) yang menuntut pendidik untuk beradaptasi. Evaluasi berbasis teknologi, seperti kuis daring dan portofolio digital, juga menjadi tren baru yang membutuhkan adaptasi dari semua pihak. Pemberdayaan kolaborasi menjadi lebih mudah berkat teknologi, yang didukung oleh platform komunikasi seperti Microsoft Teams. Teknologi memungkinkan proyek lintas disiplin dan membuka peluang jaringan global, yang memperluas wawasan mahasiswa. Untuk berkembang di era digital, mahasiswa perlu mengadopsi pola pikir belajar sepanjang hayat. Ini mencakup adaptasi teknologi yang berkelanjutan, pemahaman tren global dan lokal, serta motivasi internal yang kuat untuk terus belajar tanpa paksaan.
PKKMB 19 AGUSTUS 2025 (FAKULTAS)
Untuk PKKMB hari ketiga, ada tiga materi yang disampaikan yaitu mengenai pembelajaran di perguruan tinggi, Sistem Perkuliahan, Pembimbingan Akademik, Tata Krama, dan Norma Kehidupan Kampus serta Hak dan Kewajiban sebagai Mahasiswa.
PKKMB 20 AGUSTUS 2025 (PRODI PPKN)
Kepala Kaprodi PPKN Dr. Yunisca Nurmalisa, M. Pd, menerangkan beberapa hal mengenai apa itu Pembimbing Akademik serta Peran dari Pembimbing Akademik. Pembimbing akademik adalah dosen yang dipilih oleh kampus untuk membimbing dan membantu mahasiswa selama kuliah, mulai dari memilih mata kuliah, memberi saran belajar,sampai memberi arahan jika ada masalah akademik.
Pembimbing akademik bertugas Membantu mahasiswa dalam Menyusun rencana studi (KRS), Membantu mahasiswa dalam mempertimbangkan mata kuliah yang akan diambil sesuai dengan beban sks yang dapat diambil dan memvalidasi RS, Memonitor Dan Mengevaluasi Perkembangan Studi mahasiswa, Mendokumentasikan hasil pemantauan mahasiswa bimbingan kepada jurusan setiap akhir semester melalui kartu kendali, Membantu mengatasi masalah-masalah studi yang menghambat kelancaran studi apabila diperlukan,

0 Komentar